22 Februari, 2009

Kumpulan Video TVS

dibawah ini ada beberapa video tentang TVS Apache RTR 160










Kapan TVS berani ikut PERANG IKLAN

Wah kacian sekali nich motor gue, katanya sich masuk kategori motor sport yang huebat, bahkan dari video yg dibuat dlm review oleh CNBC bulan Desember 2008 lalu di http://www.youtube.com/watch?v=CV0LckyJyZc&hl=id jelas-jelas kualitasnya TVS Apache dibandingkan dengan barang yang lebih tinggi levelnya, yaitu Pulsar 220, meski itu yang Fi (injection). hasil test drive saya sendiri sebelum memutuskan beli Apache juga coba Tiger 200, Pulsar 200 dan Pulsar 180. Hasilnya memang Apache yang paling OK. (silakan baca tulisan lain di blog ini juga).

Saat ini selain pasar bebeknya mulai terganggu dengan banyaknya merk baru yang masuk baik yg dari lokal sendiri, puluhan merk cina maupun TVS Neo, dua ATPM besar sudah mulai perang iklan secara lebih vulgar, yah itu mirip2 parpol PKS yang menyerang parpol lain secara vulgar. Hal ini sudah diulas oleh maz Triatmono di bog beliau yang menceritakan perangnya pemain terkuat di negeri kita si Honda dan si Yamaha.

Seharusnya TVS si pendatang baru juga harus langsung ikutan bertempur. Keberanian memunculkn diri sebagai pendatang baru dengan cara yang powerful aan memberikan kesan yang kuat pada merk tersebut.

Ingat gak ketika Samsung dan LG masuk Indonesia, iklannya gencar sekali, bahkan merk2 lain bisa terlibas, standing banner ada dimana-mana, barangnya dipajang secara atraktif. Akhirnya orang sudah mulai lupa dengan merk lama seperti Sanyo, Toshiba, JVC. sedangkan merk lama yang masih survive dan dikenal tinggal Panasonic dan Sony aja.

Jialing aja berani kerjasama dengan banyak dept store/ supermarket dengan menjualnya diluar show room, tepatnya dipajang bersama barang2 rumah tangga lainnya, apalagi didekatnya ada counter finance, klop kan...? orang yang semula cuman pingin beli sabun dan setrika bisa lihat2 motor, eh... karena menarik, malah beli motor sekalian.

Salah satu upaya penjualan yang udah dirintis TVS melalui kerjasama dengan Kartu Kredit Mandiri yang bisa dibeli dengan power buy dengan bunga 0%, sayangnya hanya bisa bertransaksi di Jabodetabek aja, lha daerah lain gimana ?
   

01 Februari, 2009

TVS Apache - Kuda lari dalam kepompong yang kehujanan dan kedinginan


Kelahiran TVS Apache RTR 160 di Indonesia memang dalam kondisi yang menyedihkan. Saya harus mengucapkan kata "sayang ya, produk bagus tapi gak laku".

Dalam launching suatu produk, utamanya produk kendaraan bermotor. Marketing pasti telah mendahului bekerja dibandingkan dengan unit produksi. banyak produk telah diumumkan (artinya telah dijual) meskipun baru prototype, mereka pamerkan produk modelnya atau dikenal sebagai produk konsep dengan berbagai feature, kalau perlu sudah ada test drivenya meskipun saat itu masih dalam pengembangan. Banyak orang diminta mereview dengan mencoba, membandingkan, mengkritik, dan kalau perlu diberi hadiah untuk yang bisa menemukan kelemahan-kelemahannya.
Hasil review dikembalikan ke unit Riset dan Pengembangan untuk disempurnakan. produk itu baru dipasarkan kepada publik bisa 2 hingga 5 tahun kedepan. Selama proses itu mereka melakukan roadshow, mengembara kesan-kemari, pasang iklan diberbagai media secara kontinyu sampai produk benar2 siap dipasarkan.

Kondisi terbalik dengan TVS Apache, produk sudah beredar tapi kurang dikenal orang.

Penjelasan dari unit marketing beralasan kalau usia TVS di Indonesia masih seumur bayi, bahkan GM Marketing yang sangat berpengalaman dengan perusahaan kelas kakap dan produknya juga sangat terkenal menegaskan kalau terkendala anggaran pemasaran.

Sayang ya.....
produk bagus kok gak didukung sistem pemasaran yang handal.

Idealnya pemasaran dilakukan sebelum proses pembangunan pabrik dilakukan, tentunya setelah segala deal bisnis dengan TVS India clear dan perijinan sebagai ATPM clear. produk harus dikenalkan jauh hari sebelumnya dengan memaparkan segala keunggulan dan kehebatannya.

Sebagai pendatang baru tentunya harus tahu bagaimana mencari muka agar segera dikenal masyarakat, jangan malu-malu dan sembunyi-sembunyi dong.

Coba bandingkan dengan bagaimana sikap kompetitor yang sudah menguasai pasar. Begitu terasa ada ancaman masuknya pesaing baru mereka segera menggalakkan marketingnya, semua strategi dikeluarkan agar pelanggan setianya dan para calon user tidak berpaling darinya. Para penguasa pasar secara serentak megepakkan sayapnya lebar-lebar untuk menutupi pesaing barunya, mereka sangat berusaha dengan keras agar produk kompetitor baru tidak terlihat. Iklan bertubi-tubi, menggelar event yang menonjolkan image produk ke segala penjuru negeri, sehingga kesetiaan kepada produknya bisa terjaga dan bahkan bisa menambah pangsanya. Contoh riil adalah Yamaha yang memajang artis-artis kakap sebagai ikon produk. Begitu juga Honda dengan ikon Agnes Monica dan VJ MTV yang ganteng. sedangan ATPM lainnya seperti Suzuki banyak menggelar event balap dan banyak mengumpulkan predikat juara. Berapa biayanya ???? pasti sangat besar.

TVS Apache yang tenggelam tertimbun 3 raksasa jepang tadi masih beralasan kalau masih bayi dan keterbatasan anggaran. Sedangkan kakak kandungnya yang sama berdarah India yaitu mas Bajaj yang sama-sama masuk sudah menggeber nusantara dengan motor Pulsarnya. Kalau ditarik periode kapan Apache dan Pulsar masuk Indonesia sebenarnya sama sama saja.
Cuma saja Pulsar sang kakak lebih cerdas, dia segera melakukan penetrasi pasar menembus dominasi Honda Tiger yang saat itu tidak ada lawannya serta memanfaatkan kelemahan Yamaha Scorpio yang modelnya sangat jelek dan jadul (gak beda jauh dengan Honda Win).

Saya gak usah susah dan repot kumpulkan data pemasaran nasional, lha wong saya ini kan sedang merantau ke Manado. Masalah beli motor di Manado itu barang gampang, daya beli disini cukup tinggi, peluang pasar sebenarnya cukup lebar. Bayangkan saja Pulsar bisa laku lebih dari 400 unit dalam 1 tahun, sedangkan Apache 6 bulan baru laku dibawah 20 unit. Apabila dibandingkan periode yang sama baca di http://wong-jogja-perantau.blogspot.com/2009/01/tvs-apache-gak-ada-prospek-marketing.html maka Pulsar sudah jualan lebih dari 200 unit.

Saya sangat prihatin dengan nasib si Kuda Lari ini, dia masih tersimpan dalam kepompong yang kehujanan dan kedinginan, dia masih takut keluar ke alam bebas, masih lebih enak tidur didalam kepompong. Sedangkan lawan-lawannya sudah terbang kesana kemari dan menyambar lawan-lawannya berebut pembeli.

jadinya kalah dech........

Ada yang salah dengan strategi bisnis TVS Indonesia, bisa-bisa si kuda lari sudah mati di dalam kepompong dan gak sempat terbang mengepakkan sayapnya.

27 Januari, 2009

TVS Apache - gak ada prospek ???? Marketing mandul ???


Bila diamati sejak saya mengenal TVS Apache RTR 160 bulan Oktober 2008 di Manado, ternyata untuk kurun waktu segitu hanya ada 15 pemakai, artinya bisa ditebak bahwa tidak ada upaya dari TVS untuk mengenalkan produknya sehingga menjadi diminati masyarakat (di Manado khususnya).

Saya jadi gregetan dengan cara dan metode marketing TVS.

Kita bisa bandingkan bagaimana reaksi Honda ketika pasar Tiger diganggu oleh masuknya kompetitor potensial seperti Yamaha yang mengenalkan Vixion, Bajaj Pulsar dan TVS. Honda sempat terlena dengan arogansinya menguasai pasar motor ber cc diatas 150 cc selama bertahun2. Namun setelah masuknya Pulsar hingga terbentuk Pulsarian, juga dengan teknologi fuel injection Yamaha Vixion, si arogan tadi segera tersadar bahwa pasarnya telah terganggu dan segera memperbaiki posisinya (re-positioning) dengan menerbitkan berbagai varian motor injection (CS1 dan Beat) serta merubah tampilan Tiger menjadi berbeda. langkah itu segera diikuti dengan menggenjot iklan secara bertubi-tubi terutama untuk hilangnya pasar kelas bebek melawan Yamaha dengan Revo, matik Vario yang keok melawan Mio dengan terbitkan Beat dan Tiger yang ganti topeng dengan lampu a-simetris meski teknologi mesin tetap aja jadul.

Ada banyak contoh bagaimana peran marketing mempengaruhi penjualan. Perusahaan rokok merupakan contoh terbaik dalam penetrasi pasar dimana untuk pengenalan produknya digunakan iklan yang gencar, promosi bertubi2 termasuk dengan SPG cantiknya, demikian pula untuk operator telepon selular. di Manado ada 2 operator pendatang baru, keduanya CDMA dengan merk dagang Fren dan Esia. dengan banyak iklan dalam berbagai media ternyata mereka juga berhasil menjual produk dalam waktu cepat sehingga mampu menggembosi Flexi yang telah eksis 4 tahun.

Mungkin sang marketer TVS akan berkilah, itu kan barang kecil dan harganya murah !!!
Bukan itu jawabnya, karena meski kecil dan murah kalau tidak disosialisasikan (bahasa bisnisnya diiklankan dan dipromosikan) tentu tidak dikenal.

Saya amati bagaimana Pulsar dipasarkan, mereka gunakan SPG cantik masuk ke kantor2 sambil membawa brosur, merayu prospek (calon pembeli) untuk test drive, menilpon kembali prospek yang belum berminat hingga berulang2. Pulsar selain mempunyai show room dengan lokasi strategis, sering melakukan pameran di mal, juga melakukan pendekatan ke berbagai instansi. Hasilnya adalah dalam kurun 1 tahun telah terjual lebih dari 400 unit.

Bandingkan apa yang dilakukan TVS, pameran di mal namun lokasi tidak strategis malah tertutup oleh motor merk lain, dijaga oleh teknisi (cowok) yang wajahnya tidak menarik, tidak ada tenaga marketing yang melakukan door to door. Tenaga sales yang di show room tidak bisa jelaskan fitur motor.

Karena tidak dikenal maka Apache banyak kehilangan peluang (oportunity lost) padahal harganya hanya selisih 1,5 juta dari Suzuki Thunder 125.

Terus terang banyak pemakai Thunder kecewa mereka tidak kenal TVS Apache RTR 160 lebih dulu karena untuk motor dengan fitur yang cukup canggih harganya hanya selisih sedikit dengan Thunder yang terlanjur dibelinya.

Ada kesan TVS tidak punya visi dan misi dalam berbisnis, memang benar juga bila ada sebagian rekan yang khawatir masa depan TVS. Karena kalau prospek industri otomotif saya yakin masih bagus, masalahnya adalah bagaimana TVS Indonesia mampu menguasai pasar dan bertahan dalam persaingan, lha wong mau masuk pasar aja gak punya kemampuan penetrasi apalagi mau bersaing dengan yang eksis. Emangnya ada berapa banyak orang yang akan mencari TVS ???? kalau tidak dikenalkan dulu macam apa produknya.

Saat ini para ATPM yang sudah eksis saja jungkir balik beriklan, berpromosi, menyelenggaran berbagai kegiatan untuk mempertahankan pasarnya dan berusaha memperluas pangsa, Lha TVS malah adem ayem aja, apakah sudah begitu mindernya, atau unit marketingnya yang impoten ?

20 Januari, 2009

Tips Memilih Komputer / PC

Meskipun teknologi komputer PC telah ada di Indonesia lebih dari  20 tahun yang lalu, ternyata masih sangat banyak orang yang terjangkit penyakit Gaptek (gagap teknologi). 
Saya bisa menduga bahwa Anda pasti menebak kalau yang gaptek itu orang-orang tua berusia 35 tahun keatas, iya khan ..... ?
Ternyata salah besar !!!!
Banyak anak-anak muda berusia 20 tahunan (20 s/d 29 tahun) ternyata juga gaptek, dan anak-anak usia sekolah dari SD hingga SMA ternyata sebagian besar juga gaptek.

Sekarang akan saya perjelas tentang kriteria gaptek itu yang seperti apa ?
- GAPTEK PARAH adalah orang-orang yang benar-benar tidak kenal komputer, banyak diikuti oleh orang-orang yang dalam kegiatan kesehariannya memang tidak pernah menyentuh komputer dan memang tidak berminat dengan peralatan komputer.
- GAPTEK SEDANG diderita oleh orang-orang yang telah mengenal dan memakai komputer secara terbatas, misalnya hanya untuk mengetik surat, akses e-mail, chating, game online dan browsing.Kalau ada masalah kecil saja sudah kebingungan misalnya mau cetak ke printer, trus gak segera cetak seperti kertasnya gak keluar, dia tidak tahu bagaimana solusinya. Tipe beginian juga masih mendominasi.
- GAPTEK RINGAN terlihat dari keterbatasan pemanfaatan komputer, misalnya hanya menjalankan Microsoft Office (Word, Excel, Powerpoint), e-mail, chating, browsing, putar MP3 dan video, tahu cara menghidupkan komputer (maksudnya memasang kabel-kabel power, kabel monitor,kabel printer, mengatasi masalah printer dan monitor). Masuk dalam kriteria disini adalah tidak tahu pasti apa manfaat dan pengaruh kinerja storage, memory, prosesor, tidak memanfaatkan berbagai software seperti foto editor, utility, aksesori.

Nah, sekarang bagi pembaca yang masih masuk kriteria Gaptekwan dan Gaptekwati tapi ingin membeli komputer baik untuk yang pertama kali maupun untuk yang ke sekian kali, perlu saya bantu dengan beberapa tips berikut ini.

Tip no. 1 = Apa kebutuhan Anda
Apabila Anda hanya memerlukan komputer untuk ketik-mengetik, email, chating, putar lagu MP3 dan video maka cukup gunakan prosesor Celeron atau Atom dengan RAM (memori) 128 MB, hard disk 40GB, biaya investasi paling ringan sekitar Rp 2juta hingga 2,7 juta.

Untuk anda yang membutuhkan komputer dalam edit foto dan video, pengolahan data jumlah besar, ada aplikasi aritmatika dan permainan game bisa gunakan Pentium 4 hingga Core 2 duo dengan RAM 1 s/d 2 GB dan hardisk 80 GB. biaya investasi mulai Rp 2,5 juta sampai Rp 3,5 juta.

Adapun untuk penggunaan aplikasi 3D baik seperti Autocad, Game 3D serta aplikasi yang memerlukan render dan proses aritmatika rumit bisa gunakan prosesor Core 2 Quad dengan RAM   4 s/d 16GB, hard disk 160GB dengan investasi mulai Rp 5 juta hingga 45 juta.

Bila memerlukan akses grafis 3D maupun render kecepatan tinggi lebih nyaman pakai prosesor AMD daripada Intel. 

Tip no. 2 = Dimana kegiatan Anda
Bila penggunaan komputer menetap  (tidak berpindah-pindah) lebih cocok dan enakan pilih yang desktop, selain lebih nyaman, biaya investasi lebih ringan. Desktop lebih flexible untuk dilakukan ekspansi, mudah dimodifikasi, perawatan mudah dan murah. Penggunaan laptop, notebook maupun netbook untuk kondisi ini tidak cocok karena selain keterbatasan akses, biaya investasi mahal, perawatannya juga tinggi karena harga hardisk, memori dan baterai lebih mahal dibanding komponen desktop.

Untuk anda yang mobilitas tinggi, memerlukan komputer setiap saat tentu perlu komputer yang portabel. Bila data yang diolah banyak dan rumit silakan pilih laptop yang mempunyai layar lebar, untuk penggunaan yang simpel tapi banyak info yang diakses bisa pakai notebook, sedangkan untuk mobilitas yang sangat tinggi tapi tetap selalu butuh akses komputer yang sederhana seperti untuk ketik-mengetik, internet, presentasi bisa gunakan netbook. 

Kelebihan netbook adalah bentuknya kecil, ringkas, baterai tahan lama hingga lebih 6 jam.

Bila ingin yang lebih praktis lagi silakan pilih PDA atau mobile PC atau lebih dikenal dengan komputer genggam karena selain berfungsi sebagai komputer juga bisa untuk telpon dan SMS selain internet online sepanjang jalan

mungkin ini dulu ya.... nanti disambung lagi.

Tip no. 3 = Berapa anggaran Anda
Untuk anggaran yang terbatas, bila memungkinkan gunakan desktop saja, bisa pilih produk yang standar saja, misalnya tidak usah pakai DVD Writer, monitor CRT, printer deskjet standar.  

Bila anggaran bukan masalah, silakan perhatikan tip 1 dan tip 2. Meskipun anda mampu membayar berapapun harganya, anda tetap akan rugi besar bila membeli alat yang mempunyai spec tertinggi tapi tingkat utilitas sangat rendah, kenapa ?? Karena teknologi komputer sangat pesat berkembang sehingga alat yang anda miliki cepat usang. bisa saja komputer dengan spec tercanggih dibeli seharga Rp 30 juta, 2 tahun lagi sudah ketinggalan jaman dan harganya turun menjadi Rp 8 juta saja. 

Tip no. 4 = Siapa Anda
Bila anda pegawai (bisa manajer, guru, staf), pelajar dan mahasiswa yang ditempat kerja atau sekolah sudah ada PC maka akan lebih bagus kalau pilih desktop. Tapi kalau kebutuhan akses komputer tinggi bisa pilih notebook maupun netbook.

Untuk tenaga marketing, sekretaris, teknisi lapangan memerlukan notebook maupun netbook untuk presentasi, rapat, organizer.

Laptop bisa dipilih bila akses di lapangan kurang banyak, mengingat bentuknya yang besar, beratnya lumayan dan baterai hanya bertahan 2 jam saja sehingga penggunaannya menjadi kurang praktis karena harus mancari colokan listrik untuk pemakaian diatas 2 jam.

Bagi yang mempunyai mobilitas tinggi tapi juga butuh akses data cepat maka pilihannya adalah gunakan PDA saja misalnya untuk manajer yang setiap saat harus ambil keputusan, sedangkan posisinya lebih banyak diluar kantor.

30 Desember, 2008

Aksesori motor di Manado MAHAL SEKALI

Saya sedang berencana modif n lengkapin aksesori buat TVS Apache RTR 160 yang baru berumur 1 bulan. Setelah keliling sana-sini, ternyata agak sulit cari aksesorinya.
Selain motor baru, ukuran ban belakang yg 18" juga agak kurang familier bagi bengkel disini, mereka sarankan ganti aja velg dengan punya Tiger.
Saya mulai pilih2 aksesori, mulai dari velg radial 17" lokal merk Speed harganya dah 1,6 jt, trus ban radial BS satu bijinya 850 ribu, baru box samping merk Bivi ditawarkan 3,2jt sampe 8 jt, trus yang dibelakang 2 jt.
Setelah saya cek harga Jakarta ternyata box Bivi cuman 1,1 jt.
Wah... berabe juga nich, kalo jadi orang daerah tertinggal. Apa aja jadi mahal. 
Bikin Begel (itu sebutan montir di sini untuk pipa pengaman dibawah/ samping mesin) harganya 350 ribu. Padahal kalo saya bikin di Jogja paling cuman 125 ribu.
Memang sich bengkel yg saya datengin ini yang paling lengkap dan punya montir yg sebagian besar anak Jawa. Makanya siapa aja yang punya ilmu tentang motor baik mesin dan modifikasi ada kesempatan peluang kerja dan bisnis bagus disini. Masalah mendandani motor, disini gak ada batas umur, meski dah pensiunan motornya trendy n keren2 lho.... Apalagi kalo yg punya anggota polisi, motor Tiger pasti dech dah full variasi, lha wong yang punya Thunder aja aksesorinya dah lebih mahal dari harga motornya, lagipula disini polisi orangnya gagah2 sekali, selain body tinggi besar, tampangnya juga banyak yg ganteng.
So.... kalo ada info tentang aksesori yang bisa dibeli diluar Manado n harga murah, bantuin dong infonya......

16 Desember, 2008

Saatnya investasi di Reksadana

Pertengahan Agustus 2007, saat sub prime mortgage meledak di Amerika, index bursa kita sempat anjlok dengan harga yang menukik tajam. waktu itu aku masih memegang Reksadana Mandiri Investa Atraktif (Mitra) yang kubeli di harga NAB (nilai aktiva bersih) 2.550 pada bual Juni sebelumnya.
Berdasarkan pengalamanku bermain saham sejak tahun 1990, aku perlu lakukan koreksi investasi, caranya yaitu investasiku yang kutanam sebesar 25 juta di harga 2.550 kujual saat harga turun menjadi 2.310.
Beberapa temanku yang baru 2-3 tahunan bermain reksadana langsung mengkritik, rugi tuh !!!! masa beli di 2.550 kok malah dijual di harga 2.310, artinya aku bisa rugi sekitar 2,5 juta lebih. beberapa yang lain mengolokku, "katanya dah pengalaman lha kok malah panik, harga turun kok dijual" mereka bergantian menasehatiku, seolah-olah sudah sangat berpengalaman. Memang sich dari hasil training yang pernah diikuti oleh salah satu dari mereka memberikan pedoman kalau harga turun gak boleh dijual kalo gak pingin rugi. Akhirnya dalam beberapa hari NAB Mitra telah turun jadi 2.050, sayangnya di hari itu aku gagal masuk untuk beli 20 lot. Akhirnya baru besok paginya aku dapat di harga 2.150, luar biasa !!! dalam 1 hari udah naik lagi, 100 rupaih ....
sambil mengamati pertumbuhannya, aku semakin mantap karena baru 1 minggu harga dah mencapai 2.440. Akhirnya pada minggu ke 3 Oktober telah dicapai harga 3.300, nah saat itulah aku jual Mitra-ku, jadi investasi 21,5 juta dah beranak pinak jadi 33 juta dalam waktu 3 bulan saja.

Bagaimana dengan kondisi saat ini ?
peluang bagus untuk masuk, karena saya ramalkan pada akhir 2009 setelah ontran-ontran pemilu legislatif dan presiden selesai, tentunya semua berharap nasib negri ini akan semakin baik. Nah disekitar semester 1 tahun 2010 kita sudah tinggal panen dengan trend pertumbuhan bisa saja diatas 130%. ini berdasarkan feeling so good n pengalaman gue lho....

26 November, 2008

Akhirnya TVS RTR 160 Apache Pilihanku

Pilih yang mana:
Setelah 3 hari bolak-balik ke dealer Bajaj dan TVS, dimana saya sempat hampir memutuskan ambil Pulsar 180 karena tertarik warna merah-nya yang menyala dan sales girlnya yang cuantik dan seksi (cewek Manado paling pinter jaga penampilan lho...), saya sempat bingung karena penampilan Pulsar 180 dan Apache hampir sama gagahnya.
Cuman saja begitu pegang stang, Pulsar 180 rasanya kaya pegang motor Honda CB 100 tahun 75an karena bengkokan pipanya kuno banget, trus suara mesin n knalpot rada brisik. Saya terus mikirin berapa biaya ganti plat segitiga bracket stang racingnya, trus kalo ganti stang tentu ngefek juga ke kabel2 yg kalo gak pas pasti jadi gak rapi lagi.
Harga Pulsar di Manado Rp 17,5jt sedangkan Apache Rp 17,33jt, sepintas 180cc tampak murah dibanding yang 160cc, apalagi populasi Pulsar di jalanan sudah lumayan banyak. Polisi patroli juga sudah banyak yang pake Pulsar.
Sabtu sore tanggal 22-11-2008 saya pelajari lagi brosur-brosur, review dari user di India karena mereka yg lebih pengalaman pake, sedang reviewer indonesia sebagian belum punya or hanya dr baca web aja. Meski demikian saya perhatikan juga para user Apache sama Pulsar yg cerita waktu pulang mudik.
Saya akhirnya bikin sayembara ke kedua agen TVS dan Pulsar, siapa yang duluan bisa kasih nomor cantik dengan pilihan 9000, 9999 atau 9900 maka motor itu yang saya pilih.
Tapi malam harinya saya nyesel juga bikin gambling seperti ini karena hasil riset saya menunjukkan TVS banyak keunggulannya, sedang Pulsar hanya menang 2 busi saja, dia tetap lebih boros, kalah di akselerasi, serta kurang sporty.
Keputusan:
Akhirnya Senin pagi tgl 24-11-2008 saya dapat miscall berkali-kali dari TVS tapi tlp tdk saya angkat krn ada rapat koordinasi mingguan di tempat kerja. waktu saya callback ke TVS, jawabannya nomor yg saya pesan sdh ada dan sudah di blok utk nama saya.
Karena TVS berhasil konfirmasi nomor yang saya pesan maka pilihan jatuh ke TVS, alhamdulillah, coba kalo yg telpon dari Pulsar, wah.... pasti nyesalnya gak habis2.

Sekarang saya lagi mereka2 apa saja yg perlu ditambah, di modif dan dikorek-korek.
Pilihan pertama ganti ban yg lebar sekalian ganti velg krn mau saya pasang rear disk brake, baru pasang pipa pengaman samping buat dudukan lampu spot.

saya juga dah siapin touring ke Langowan (pegunungan) dan Bitung (track datar) buat uji coba akselerasi, tanjakan, track panjang sama berbagai kondisi medan.

Habis itu baru oprek dapur pacu tentunya setelah evaluasi hasil touring sebulan.

19 November, 2008

Pilih motor TVS RTR 160 atau Pulsar 180

Saat ini saya sedang sedikit kebingungan untuk menyiapkan kendaraan roda 2 buat nyangkul. Maklumlah, saya sudah pake Vespa Corsa sejak tahun 1996 sampe sekarang. Yang kasihan yaitu di Manado sini gak ada satupun teknisi yang tau mekanikal motor ini, lebih celaka lagi cari onderdilnya. Maklum meski jadul teknologi matiknya belum mereka kenal, kasihan ya mekanik di daerah sini. Akhirnya saya bisa ambil kesimpulan bahwa lebih aman pake motor baru yang suporting dan servisnya bagus.

Kalau lihat2 motor jepang sejak saya pake Yamaha RX 100 tahun 1979, trus Honda Astrea Star, sampe anak-anak pake Honda Revo dan Yamaha bebek, rasanya kok gak ada yg bagusan, udah logamnya mbedel (gampang patah & cepat aus) model dan teknologinya cuman begitu2 saja. Apalagi kalau ngamatin Honda, weleh.. weleh... weleh dari tahun ketahun cuman gonta-ganti stiker aja, gak mutu !!!!.

Tertarik sama teknologinya Mio, tapi setelah lihat fisiknya yg imut trus sadelnya pendek, wah.... hilang juga minatku... Habisnya kalo naik motor ini rasanya kayak wong ndondok, bisa-bisa ambeienku kumat.

Akhirnya setelah jalan-jalan ternyata udah ada dealer lengkap sama bengkel dan suku cadangnya motor India merk TVS dan Bajaj.

Bajaj Pulsar ternyata wong Manado minatnya gedhe banget, abisnya stok yg di show room udah ada tempelan nama orang, artinya barang pesanan udah ada pemiliknya semua. Barang yg datang sekarang ternyata udah dipesan sejak puasa dulu. Apalagi Polda Sulut seleranya juga OK, pasukan Busernya pake tongkrongan Pulsar, tambah panjang lagi indent-nya. Waduh susahnya kalo pengin motor canggih. Harga yg 200cc Rp 21jt trus yg 180cc Rp 18,5jt, yg 125 cc Rp 13jt.

Saya tertarik sama Pulsar 180 yang businya dobel, tapi gak yakin juga sich kalo dobel trus ada efeknya ke power, soalnya dulu saya punya motor trail yang busi dobel, tapi waktu kabel satu busi copot, tenaganya juga gak ngedrop, artinya sami mawon. Trus lampu belakang LED berbentuk V, wah gagah tenan.

Waktu test drive, tapi yg saya coba yg Pulsar 200, rasanya gak nyaman, asap bau bensin, artinya pembakaran gak sempurna, trus mesin mati berkali-kali setiap dibebani (kopling dilepas). baru waktu berputar, masya Allah radiusnya lebar banget, ini susah buat manuver. Di Manado meski kotanya kecil dan penduduknya cuman 600.000 orang, crowdeednya luar biasa, angkot liar sekali, makanya kalo pake Pulsar jadi kurang lincah, apalagi kalo mau akselerasi, rasanya masih enak naik Vespa Corsa (matik) jadul saya yang tinggal gas dan rem, trus buat zig-zag lincah sekali.

Kalau TVS yang saya sempat test drive ternyata akselerasinya galak banget, nggilani dech... roda depan sempat ngangkat jingkrak-jingkrak, cuman sayangnya miskin aksesori, tapi.... fiturnya jauh dech dibanding Honda Tiger. Kalo Tiger saya dah gak nglirik lagi, teknologi jadul, mesin brisik, ngeden gak punya power, malah saya sempat amati mereka kejar2an sama bebek Revo di tanjakan Tomohon (mirip kawasan Secang kalo di Jateng) segitu aja kalah tho..... cuman suaranya aja yang memekakkan telinga tapi nggembos.

Nah, kalo TVS RTR 160 Apache ini meski keliatan polos miskin tampilan tapi ternyata banyak fiturnya, mulai Speedo digital, rem cakram depan-belakang, ban origin pabrik TVS, diameter depan lebih kecil, trus ban belakang dah radial. Buat orang yg dah tua kayak saya ini (kepala 4) rasanya lebih enak pake motor ini dech, karena gak terlalu keliatan ngenomi tapi hoby ngebut tetap tersalur.

Masalahnya adalah, saya gak tau persis mana yang lebih tepat dipilih buat dibeli, makanya bantu dong infonya buat pengambilan keputusan.

Tolong ya.... bantu dong........

07 November, 2008

Tarsius


binatang khas Sulawesi, keistimewaan terdapat pada kepala yang bisa berputar 180 derajat

makanan serangga,

kondisi sudah sangat langka menjelang punah, penangkaran kurang diminati, mohon bantuan pihak yg berwenang