Tampilkan postingan dengan label Bajaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bajaj. Tampilkan semua postingan

07 Juni, 2009

Open Source Industri Otomotif Nasional

Jangan berbangga dulu kalau di Indonesia banyak pabrik perakitan mobil, itu semua punya Jepang dan Eropa. Tidak ada kebanggaan dan keuntungan sama sekali kecuali terserapnya tenaga kerja. Kita sebenarnya lebih tepat sebagai pasar dari produk tersebut, yang untung adalah pabrikan dan ATPMnya.

Kita masih ingat betapa ributnya mafia ATPM ketika pemerintah membuka kran masuknya mobil Korea dengan harga sangat murah (Timor), tentu saja selain pangsa pasar berkurang, yang jelas laba yang sangat besar akan berkurang. Memang orang yang rakus tidak pernah mau berbagi, siapapun itu.

Upaya pemerintah yang ingin mendapatkan sarana transportasi murah tidak pernah terealisir, hanya sekedar himbauan saja kepada para ATPM dan mereka hanya sekedar janji-janji aja.

Alternatif yang cukup melegakan adalah masuknya motor-motor cina yang dijual lebih murah dari pemain lama, motor jepang. hanya sayangnya, kualitas tidak terjaga, jaminan purna jual kacau, namun itu tidak untuk semua merk, karena ada beberapa merk yang saat ini eksis dan angka penjualannyapun cukup tinggi.
Kompetisi pasar motor bertambah ramai setelah pabrikan India membuka jalur ke Indonesia seperti Bajaj dan TVS, alternatif baru untuk mendapatkan barang berkualitas sama dengan harga lebih murah.

Bagaimana bila kita membangun industri otomotif sendiri, sulitkah ?

Jawabnya bisa bermacam-macam, apabila diambil contoh atas karya Widya Aryadi seorang dosen Universitas Negeri Semarang yang telah berhasil membuat mobil kecil yang diklaimnya sebagai Urban Personal Vehicle dengan mesin Viar 150 cc (biasa dipakai motor gerobag roda 3), dari disain yang dihasilkan dan harga sekitar 30 juta akan tampak lebih mahal bila dibandingkan dengan Tata Nano yang bermesin 624 cc dengan harga 24 juta saja.

Dari perbandingan diatas tampak bahwa sulit untuk menandingi pabrik besar yang mempunyai mesin lengkap dengan puluhan insinyur bila hanya dilawan dengan skala kecil. 

Lantas bagaimana bisa kita menandinginya, pertanyaan berikutnya adalah kemana ribuan insinyur teknik mesin dan insinyur disain, mana hasil karya mereka ? hanya sekedar cari ijazah sajakah ? tapi ilmunya tidak aplikabel ?

Sebenarnya ada solusi yang bisa kita adopsi dari industri di Cina atau bisa juga sistem pengembangan software yang dianut Linux, OPEN SOURCE ! (sekarang juga diikuti Microsoft)

Kalau Departemen Perindustrian tidak mampu untuk mewadahinya, ya kita buat saja secara independen, bisa juga dimulai dari dunia maya.

Dalam sistem open source ini yang penting dibuat standar produk dulu dan ditentukan lisensinya, bgaimana disain body, chasis, sistem suspensi, transmisi, pemilihan mesin dan yang terakhir pengawasan dan pengujian kualitas produk untuk mendapatkan sertifikat layak jalan.

Standarisasi yang bagus bisa mengikuti disain motherboard PC, apa itu PCI, apa itu SATA, apa itu USB dll. Kalau ini diterapkan dalam disain mobil nasional maka gak akan ribet dengan masalah suku cadang.

Jadi, akan diperoleh biaya yang minimal karena masing-masing komponen standar sudah ada dipasaran, komponen khusus dibuat oleh unit-unit kecil, komponen yang memerlukan presisi tinggi tidak harus dibuat sendiri, ambil saja dari produk lain, misalnya master rem dari merk mitsubishi (T 120) yang kompatibel juga dengan suzuki carry. tromol rem bisa dibuat di sentra industri logam Tegal dan Ceper, mesin tinggal pilih merk apa saja tidak perlu membuat sendiri karena terlalu rumit.

Sistem open source akan memberikan kehidupan bagi ribuan tenaga teknik yang tersebar diseluruh wilayah indonesia, perancangan body menjadi lebih variatif, modifikasi mesin akan dibuat sesuai kebutuhan, keselamatan dan keamanan semakin baik dibandingkan sepeda motor. Yang jelas menekan biaya ...!

Sebagai contoh dalam kehidupan nyata, teknisi kita sebenarnya sangat pandai dan cerdas, mereka bisa menyulap rongsokan mobil menjadi alat transpor yang kuat hanya dengan menggunakan mesin disel Kubota atau Yanmar, bahkan bisa multi fungsi sebagai mesin giling gabah yang mobile (maksudnya bisa pindah-pindah gitu lo...) di Sokka Kebumen dimodifikasi sebagai penggiling tanah untuk bahan genteng keramik, trus... yang ngetrend sekarang adalah motor gerobag roda 3 (semuanya produk Cina) sudah dimodifikasi menjadi angkutan pedesaan dengan kapasitas 10 orang, kalau rancang bangunnya bagus bisa menggantikan bajaj tapi dengan 2 baris tempat duduk untuk 6 penumpang.

Saya sendiri (bukan insinyur lho..) pada tahun 1995 sudah bikin moge roda 3 dengan mesin VW 1600 cc yang saya buat sendiri (tanpa bantuan org lain) selama 3 bulan di garasi rumah di komplek GAP, Kwarasan, Jogja.

Kesimpulannya : membuat mobil murah itu tidak susah dan tidak perlu biaya mahal, bahkan bisa saja dibuat seperti MLM, misalnya membuat body dpt share 30%, chasis 30% dan seterusnya......

Kembangkan Industri Kecil, Kembangkan Industri Nasional, Buka Lapangan Kerja Baru ! Salurkan kredit murah untuk kemajuan bangsa....

Mari kita mulai OPEN SOURCE industri otomotif !!!! Semangat bung !!!

Prazt

01 Februari, 2009

TVS Apache - Kuda lari dalam kepompong yang kehujanan dan kedinginan


Kelahiran TVS Apache RTR 160 di Indonesia memang dalam kondisi yang menyedihkan. Saya harus mengucapkan kata "sayang ya, produk bagus tapi gak laku".

Dalam launching suatu produk, utamanya produk kendaraan bermotor. Marketing pasti telah mendahului bekerja dibandingkan dengan unit produksi. banyak produk telah diumumkan (artinya telah dijual) meskipun baru prototype, mereka pamerkan produk modelnya atau dikenal sebagai produk konsep dengan berbagai feature, kalau perlu sudah ada test drivenya meskipun saat itu masih dalam pengembangan. Banyak orang diminta mereview dengan mencoba, membandingkan, mengkritik, dan kalau perlu diberi hadiah untuk yang bisa menemukan kelemahan-kelemahannya.
Hasil review dikembalikan ke unit Riset dan Pengembangan untuk disempurnakan. produk itu baru dipasarkan kepada publik bisa 2 hingga 5 tahun kedepan. Selama proses itu mereka melakukan roadshow, mengembara kesan-kemari, pasang iklan diberbagai media secara kontinyu sampai produk benar2 siap dipasarkan.

Kondisi terbalik dengan TVS Apache, produk sudah beredar tapi kurang dikenal orang.

Penjelasan dari unit marketing beralasan kalau usia TVS di Indonesia masih seumur bayi, bahkan GM Marketing yang sangat berpengalaman dengan perusahaan kelas kakap dan produknya juga sangat terkenal menegaskan kalau terkendala anggaran pemasaran.

Sayang ya.....
produk bagus kok gak didukung sistem pemasaran yang handal.

Idealnya pemasaran dilakukan sebelum proses pembangunan pabrik dilakukan, tentunya setelah segala deal bisnis dengan TVS India clear dan perijinan sebagai ATPM clear. produk harus dikenalkan jauh hari sebelumnya dengan memaparkan segala keunggulan dan kehebatannya.

Sebagai pendatang baru tentunya harus tahu bagaimana mencari muka agar segera dikenal masyarakat, jangan malu-malu dan sembunyi-sembunyi dong.

Coba bandingkan dengan bagaimana sikap kompetitor yang sudah menguasai pasar. Begitu terasa ada ancaman masuknya pesaing baru mereka segera menggalakkan marketingnya, semua strategi dikeluarkan agar pelanggan setianya dan para calon user tidak berpaling darinya. Para penguasa pasar secara serentak megepakkan sayapnya lebar-lebar untuk menutupi pesaing barunya, mereka sangat berusaha dengan keras agar produk kompetitor baru tidak terlihat. Iklan bertubi-tubi, menggelar event yang menonjolkan image produk ke segala penjuru negeri, sehingga kesetiaan kepada produknya bisa terjaga dan bahkan bisa menambah pangsanya. Contoh riil adalah Yamaha yang memajang artis-artis kakap sebagai ikon produk. Begitu juga Honda dengan ikon Agnes Monica dan VJ MTV yang ganteng. sedangan ATPM lainnya seperti Suzuki banyak menggelar event balap dan banyak mengumpulkan predikat juara. Berapa biayanya ???? pasti sangat besar.

TVS Apache yang tenggelam tertimbun 3 raksasa jepang tadi masih beralasan kalau masih bayi dan keterbatasan anggaran. Sedangkan kakak kandungnya yang sama berdarah India yaitu mas Bajaj yang sama-sama masuk sudah menggeber nusantara dengan motor Pulsarnya. Kalau ditarik periode kapan Apache dan Pulsar masuk Indonesia sebenarnya sama sama saja.
Cuma saja Pulsar sang kakak lebih cerdas, dia segera melakukan penetrasi pasar menembus dominasi Honda Tiger yang saat itu tidak ada lawannya serta memanfaatkan kelemahan Yamaha Scorpio yang modelnya sangat jelek dan jadul (gak beda jauh dengan Honda Win).

Saya gak usah susah dan repot kumpulkan data pemasaran nasional, lha wong saya ini kan sedang merantau ke Manado. Masalah beli motor di Manado itu barang gampang, daya beli disini cukup tinggi, peluang pasar sebenarnya cukup lebar. Bayangkan saja Pulsar bisa laku lebih dari 400 unit dalam 1 tahun, sedangkan Apache 6 bulan baru laku dibawah 20 unit. Apabila dibandingkan periode yang sama baca di http://wong-jogja-perantau.blogspot.com/2009/01/tvs-apache-gak-ada-prospek-marketing.html maka Pulsar sudah jualan lebih dari 200 unit.

Saya sangat prihatin dengan nasib si Kuda Lari ini, dia masih tersimpan dalam kepompong yang kehujanan dan kedinginan, dia masih takut keluar ke alam bebas, masih lebih enak tidur didalam kepompong. Sedangkan lawan-lawannya sudah terbang kesana kemari dan menyambar lawan-lawannya berebut pembeli.

jadinya kalah dech........

Ada yang salah dengan strategi bisnis TVS Indonesia, bisa-bisa si kuda lari sudah mati di dalam kepompong dan gak sempat terbang mengepakkan sayapnya.

19 November, 2008

Pilih motor TVS RTR 160 atau Pulsar 180

Saat ini saya sedang sedikit kebingungan untuk menyiapkan kendaraan roda 2 buat nyangkul. Maklumlah, saya sudah pake Vespa Corsa sejak tahun 1996 sampe sekarang. Yang kasihan yaitu di Manado sini gak ada satupun teknisi yang tau mekanikal motor ini, lebih celaka lagi cari onderdilnya. Maklum meski jadul teknologi matiknya belum mereka kenal, kasihan ya mekanik di daerah sini. Akhirnya saya bisa ambil kesimpulan bahwa lebih aman pake motor baru yang suporting dan servisnya bagus.

Kalau lihat2 motor jepang sejak saya pake Yamaha RX 100 tahun 1979, trus Honda Astrea Star, sampe anak-anak pake Honda Revo dan Yamaha bebek, rasanya kok gak ada yg bagusan, udah logamnya mbedel (gampang patah & cepat aus) model dan teknologinya cuman begitu2 saja. Apalagi kalau ngamatin Honda, weleh.. weleh... weleh dari tahun ketahun cuman gonta-ganti stiker aja, gak mutu !!!!.

Tertarik sama teknologinya Mio, tapi setelah lihat fisiknya yg imut trus sadelnya pendek, wah.... hilang juga minatku... Habisnya kalo naik motor ini rasanya kayak wong ndondok, bisa-bisa ambeienku kumat.

Akhirnya setelah jalan-jalan ternyata udah ada dealer lengkap sama bengkel dan suku cadangnya motor India merk TVS dan Bajaj.

Bajaj Pulsar ternyata wong Manado minatnya gedhe banget, abisnya stok yg di show room udah ada tempelan nama orang, artinya barang pesanan udah ada pemiliknya semua. Barang yg datang sekarang ternyata udah dipesan sejak puasa dulu. Apalagi Polda Sulut seleranya juga OK, pasukan Busernya pake tongkrongan Pulsar, tambah panjang lagi indent-nya. Waduh susahnya kalo pengin motor canggih. Harga yg 200cc Rp 21jt trus yg 180cc Rp 18,5jt, yg 125 cc Rp 13jt.

Saya tertarik sama Pulsar 180 yang businya dobel, tapi gak yakin juga sich kalo dobel trus ada efeknya ke power, soalnya dulu saya punya motor trail yang busi dobel, tapi waktu kabel satu busi copot, tenaganya juga gak ngedrop, artinya sami mawon. Trus lampu belakang LED berbentuk V, wah gagah tenan.

Waktu test drive, tapi yg saya coba yg Pulsar 200, rasanya gak nyaman, asap bau bensin, artinya pembakaran gak sempurna, trus mesin mati berkali-kali setiap dibebani (kopling dilepas). baru waktu berputar, masya Allah radiusnya lebar banget, ini susah buat manuver. Di Manado meski kotanya kecil dan penduduknya cuman 600.000 orang, crowdeednya luar biasa, angkot liar sekali, makanya kalo pake Pulsar jadi kurang lincah, apalagi kalo mau akselerasi, rasanya masih enak naik Vespa Corsa (matik) jadul saya yang tinggal gas dan rem, trus buat zig-zag lincah sekali.

Kalau TVS yang saya sempat test drive ternyata akselerasinya galak banget, nggilani dech... roda depan sempat ngangkat jingkrak-jingkrak, cuman sayangnya miskin aksesori, tapi.... fiturnya jauh dech dibanding Honda Tiger. Kalo Tiger saya dah gak nglirik lagi, teknologi jadul, mesin brisik, ngeden gak punya power, malah saya sempat amati mereka kejar2an sama bebek Revo di tanjakan Tomohon (mirip kawasan Secang kalo di Jateng) segitu aja kalah tho..... cuman suaranya aja yang memekakkan telinga tapi nggembos.

Nah, kalo TVS RTR 160 Apache ini meski keliatan polos miskin tampilan tapi ternyata banyak fiturnya, mulai Speedo digital, rem cakram depan-belakang, ban origin pabrik TVS, diameter depan lebih kecil, trus ban belakang dah radial. Buat orang yg dah tua kayak saya ini (kepala 4) rasanya lebih enak pake motor ini dech, karena gak terlalu keliatan ngenomi tapi hoby ngebut tetap tersalur.

Masalahnya adalah, saya gak tau persis mana yang lebih tepat dipilih buat dibeli, makanya bantu dong infonya buat pengambilan keputusan.

Tolong ya.... bantu dong........