Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan

20 Mei, 2009

Pindah-pindah tugas, enak...?

Sudah jadi ketentuan kontrak waktu masuk kerja, menandatangani surat pernyataan bersedia ditempatkan dimana saja. Pertanyaannya adalah enak gak sih pindah-pindah tempat ?

Sebetulnya gak ada masalah dipindah kemana saja, asal tidak terlalu lama dan fasilitasnya mencukupi sehingga bisa nyaman bekerja, nyaman hidup, nyaman bersosialisasi dan nyaman jiwa dan raga.

Masalah baru timbul bila kondisi diatas menjadi tidak seimbang lagi, bisa dari penempatan pada unit yang tidak sesuai dengan skill, kemampuan dan pengalaman. Adanya masalah dengan suasana kerja yang tidak kondusif, hal ini saya alami di salah satu unit kerja dimana ada oknum yang suka cari muka, suka menghasut serta berbagai perilaku negatif lainnya. Lebih celaka lagi atasan ternyata sangat cocok dengan si penghasut ini, jadilah unit kerja "Neraka" karena situasi ini. Untunglah gak terlalu lama disitu karena bisa segera keluar dari sana. 

Berpindah ketempat yang jauh juga gak masalah, saya sangat menikmati ditugaskan di Manado, suatu tempat yang saya gak pernah bayangin bisa nyampe ke sana, jauh...... pasti mahal kalau jalan sendiri kesana. tapi dengan fasilitas dinas bisa sampai juga kesana. malah bisa jalan-jalan ke kepulauan Maluku dan Halmahera. Bisa mengenal makanan khas yang sebelumnya gak pernah  ketemu.

Sedihnya, karena terlalu jauh dan terlalu lama, keluargaku tercerai berai. selama 5 tahun baru sekali bisa pulang lebaran. Ada 3 anak sekolah di Jawa (Jakarta dan Jogja) kami baru bisa ketemuan fisik dan berpelukan 2 tahun sekali. Meskipun hampir setiap hari bisa sms dan telpon dengan konsekuensi biaya pulsa bengkak. Konsekuensi dan dampak buruknya adalah aset yang susah payah dikumpulkan 15 tahun telah susut tinggal separonya. Kemana ...?  ya buat nombokin biaya hidup untuk 3 dapur (Jakarta, Jogja, Manado) apalagi di Manado biaya hidup tinggi sekali (meski ada tunjangan kemahalan tapi cuman tahun terakhir aja dapetnya, sebelumnya gak ada dan itupun hanya suport separonya aja, tpi lumayan drpd gak ada).

Resiko lain dari pindahan adalah repotnya ngepak barang-barang, urusan dengan EMKL yng gak profesional, bahkan saya hampir saja dikerjain sama EMKL dari lokal Manado yang berusaha mengeruk keuntungan dari situasi moving ini. rusaknya barang-barang dan urusan pindah sekolah juga suatu hal yang sangat menjengkelkan, kecewa, yang pasti tekor dn efek negatif ke anak yang harus menyesuakan lagi dengan suasana baru. belum masalah rumah dinas baru yang selalu gak siap huni sehingga diperlukan kerja keras untuk bisa nyaman dihuni. Kasus yang selalu ada adalah kran air yang bocor dan kualitas air yang kotor dan keruh, saluran listrik tanpa ground/arde yang bisa merusak alat elektronik dan membahayakan karena semua alat listrik jadi nyetrum, bantal yang sdh rusak, genting bocor, kunci pintu rusak dll. Untuk itu semua ternyata selain memeras tenaga juga dana jutaan rupiah.

Kapan lagi mau dipindah ?  wallahu alam. aku sich siap-siap aja, meski dgn resiko hanya berputar-putar gak dpt kesempatan yg lebih baik dan resiko kehilangan aset lagi.... jual lagi aset yg lain.... hutang lagi.... buat nombokin biaya pindah, nombok lagi....nombok lagi.... (sebuah pengorbanan untuk suatu pengabdian).
masalah rejeki Itu terserah Yang Kuasa karena rejeki beliau yg mengatur. Garis tangan memang berbeda-beda.......

Nah begitulah sedikit catatan tentang pindah-pindah tempat.

26 November, 2008

Akhirnya TVS RTR 160 Apache Pilihanku

Pilih yang mana:
Setelah 3 hari bolak-balik ke dealer Bajaj dan TVS, dimana saya sempat hampir memutuskan ambil Pulsar 180 karena tertarik warna merah-nya yang menyala dan sales girlnya yang cuantik dan seksi (cewek Manado paling pinter jaga penampilan lho...), saya sempat bingung karena penampilan Pulsar 180 dan Apache hampir sama gagahnya.
Cuman saja begitu pegang stang, Pulsar 180 rasanya kaya pegang motor Honda CB 100 tahun 75an karena bengkokan pipanya kuno banget, trus suara mesin n knalpot rada brisik. Saya terus mikirin berapa biaya ganti plat segitiga bracket stang racingnya, trus kalo ganti stang tentu ngefek juga ke kabel2 yg kalo gak pas pasti jadi gak rapi lagi.
Harga Pulsar di Manado Rp 17,5jt sedangkan Apache Rp 17,33jt, sepintas 180cc tampak murah dibanding yang 160cc, apalagi populasi Pulsar di jalanan sudah lumayan banyak. Polisi patroli juga sudah banyak yang pake Pulsar.
Sabtu sore tanggal 22-11-2008 saya pelajari lagi brosur-brosur, review dari user di India karena mereka yg lebih pengalaman pake, sedang reviewer indonesia sebagian belum punya or hanya dr baca web aja. Meski demikian saya perhatikan juga para user Apache sama Pulsar yg cerita waktu pulang mudik.
Saya akhirnya bikin sayembara ke kedua agen TVS dan Pulsar, siapa yang duluan bisa kasih nomor cantik dengan pilihan 9000, 9999 atau 9900 maka motor itu yang saya pilih.
Tapi malam harinya saya nyesel juga bikin gambling seperti ini karena hasil riset saya menunjukkan TVS banyak keunggulannya, sedang Pulsar hanya menang 2 busi saja, dia tetap lebih boros, kalah di akselerasi, serta kurang sporty.
Keputusan:
Akhirnya Senin pagi tgl 24-11-2008 saya dapat miscall berkali-kali dari TVS tapi tlp tdk saya angkat krn ada rapat koordinasi mingguan di tempat kerja. waktu saya callback ke TVS, jawabannya nomor yg saya pesan sdh ada dan sudah di blok utk nama saya.
Karena TVS berhasil konfirmasi nomor yang saya pesan maka pilihan jatuh ke TVS, alhamdulillah, coba kalo yg telpon dari Pulsar, wah.... pasti nyesalnya gak habis2.

Sekarang saya lagi mereka2 apa saja yg perlu ditambah, di modif dan dikorek-korek.
Pilihan pertama ganti ban yg lebar sekalian ganti velg krn mau saya pasang rear disk brake, baru pasang pipa pengaman samping buat dudukan lampu spot.

saya juga dah siapin touring ke Langowan (pegunungan) dan Bitung (track datar) buat uji coba akselerasi, tanjakan, track panjang sama berbagai kondisi medan.

Habis itu baru oprek dapur pacu tentunya setelah evaluasi hasil touring sebulan.